{"id":103,"date":"2018-03-27T11:40:56","date_gmt":"2018-03-27T04:40:56","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/dakwah\/?p=103"},"modified":"2023-03-29T09:29:41","modified_gmt":"2023-03-29T02:29:41","slug":"bukti-cinta-kepada-rasul-dahulu-dan-sekarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/?p=103","title":{"rendered":"Bukti Cinta kepada Rasul Dahulu dan Sekarang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"transparent aligncenter\" src=\"http:\/\/www.kajiansolo.com\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/bismilah_4.gif\" alt=\"http:\/\/www.kajiansolo.com\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/bismilah_4.gif\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sebuah Pengantar<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai seorang muslim, mencintai Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekuensi dari kesaksian kita akan kerasulan beliau <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Bagaimana tidak? Sedang melalui beliau lah kita terbebas dari segudang warisan jahiliyah yang telah mengakar begitu lama. Kalau lah tidak karena hidayah Allah, kemudian karena pengorbanan beliau dalam mendakwahkan Islam, niscaya sampai hari ini kita masih terjerat dalam belenggu syirik dan jahiliyah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Segala puji bagi-Mu ya Allah, atas hidayah dan taufiq yang Kau curahkan kepada kami\u2026 dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah padamu ya Rasulullah, atas setiap pengorbananmu demi menegakkan dien ini\u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungguh, berbicara mengenai kepribadian beliau adalah suatu kenikmatan tersendiri\u2026 berkisah tentang pernak pernik kehidupan beliau benar-benar menimbulkan decak kagum dan membesarkan hati\u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beliau lah manusia pilihan yang lahir dari manusia-manusia terpilih. Berbekal hati sanubari yang disucikan dari segala noda dan dosa, beliau beranjak menjadi manusia terhebat sepanjang sejarah. Perilakunya sungguh luar biasa, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata\u2026 sorot wajahnya benar-benar mencerminkan seorang pemimpin agung yang amat <em>welas kasih<\/em> terhadap rakyatnya\u2026 siapa pun yang menatap wajah beliau pastilah jatuh cinta diliputi perasaan segan karena wibawanya yang demikian besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Singkatnya, beliaulah sosok <em>insan kaamil<\/em> sejati yang tak mungkin ada tandingannya. Maka pantaslah jika para sahabat benar-benar jatuh cinta kepada beliau. Mereka mencintai kekasihnya yang satu ini lebih dari orang tua, anak dan isteri mereka; bahkan lebih dari diri mereka sendiri!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap kegembiraan yang beliau rasakan adalah kegembiraan bagi mereka, dan setiap kesedihan yang beliau rasakan merupakan kesedihan bagi mereka. Mereka ikut sakit tatkala beliau sakit, mereka kelaparan tatkala beliau kelaparan, dan mereka tak dapat tidur sebelum kedua mata beliau terpejam\u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dahulu, diriwayatkan dari Sayyidina \u2018Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>, katanya: \u201cDahulu aku mempunyai seorang tetangga Anshari dari Bani Umayyah bin Zaid, sebuah kabilah yang bermukim di dataran tinggi kota Madinah. Kami berdua senantiasa bergantian mengunjungi Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Kalau hari ini dia yang turun maka keesokannya gantian aku yang turun. Usai turun menemui Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, kukabarkan kepadanya apa-apa yang disampaikan Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> hari itu, baik itu berupa wahyu atau lainnya. Demikian pula halnya kalau ia yang turun, ia melakukan hal serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai lelaki Quraisy, kami adalah orang yang memiliki supremasi terhadap istri-istri kami. Akan tetapi setiba kami di Madinah, kami dapati bahwa orang Anshar adalah orang yang kalah oleh istri-istri mereka. Akibatnya istri-istri kami mulai terpengaruh dengan tabiat wanita Anshar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernah suatu ketika aku membentak istriku\u2026 tapi ia malah membantah. Aku pun jadi berang begitu tahu ia berani membantahku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMengapa kamu marah atas sikapku, padahal demi Allah, istri-istri Nabi saja berani membantah beliau\u2026? Bahkan ada di antara mereka yang sampai meninggalkan beliau seharian ini hingga malam\u2026\u201d sanggah istriku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku pun tercengang mendengarnya\u2026 \u201cBenar-benar merugilah kalau sampai ada dari istri beliau yang berbuat demikian\u201d gumamku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat itu juga aku menyingsingkan gamisku dan bergegas menuju rumah Hafshah. Setibaku di rumahnya, kukatakan kepadanya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHai Hafshah, benarkah ada diantara kalian yang membikin kesal Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> seharian ini hingga malam?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBenar\u2026\u201d jawabnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAlangkah meruginya kamu kalau begitu\u2026 Apa kamu merasa aman dari murka Allah setelah kamu membikin kesal Rasul-Nya, hingga boleh jadi kamu celaka karenanya\u2026? Jangan minta macam-macam kepada Nabi, dan jangan sekali-kali membantahnya atau meninggalkannya. Mintalah kepadaku apa yang kau inginkan dan jangan kamu terpengaruh oleh madumu, karena ia lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> -yakni Aisyah-\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konon ketika itu warga Madinah sedang ramai membicarakan isu santer bahwa Raja Ghassan tengah menyiapkan pasukan berkudanya untuk menyerbu Madinah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu ketika, tibalah giliran tetanggaku yang Anshari itu untuk turun menemui Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Di petang harinya, ia mendatangiku sembari menggedor pintu rumahku keras-keras\u2026\u201cHoi, apa kamu ada di dalam?\u201d teriaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku pun tersentak kaget dan bergegas keluar menemuinya\u2026 tanpa basa-basi, ia pun langsung memulai pembicaraan:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWah, ada perkara besar yang barusan terjadi \u2026!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAda apa? Apa Ghassan telah tiba?\u201d tanyaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOo.. jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari itu\u2026 Nabi e telah menceraikan istri-istrinya!!\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAlangkah meruginya si Hafshah kalau begitu\u2026 aku telah menduga bahwa hal ini bakal terjadi\u2026\u201d gumamku\u2026\u201d (H.R. Bukhari no 5191).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lihatlah, bagaimana kehidupan para sahabat sangat terpengaruh dengan rumah tangga Nabi . Bagi mereka, penyerbuan pasukan berkuda Raja Ghassan ke Madinah tidak ada apa-apanya, dibanding kesedihan mereka atas apa yang terjadi dengan rumah tangga kekasih mereka saat itu. Raut muka dan kondisi si Anshari tadi seakan mengatakan: \u201cBiarlah Ghassan menyerbu Madinah dan merampas harta benda yang kami miliki, yang penting Rasulullah ceria kembali\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dahulu, ketika sebagian kaum muslimin terpukul mundur dan meninggalkan Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> dalam perang Uhud, ada seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah yang berdiri tegar dihadapan Nabi <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>, melindungi beliau dengan perisainya\u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anas bin Malik t mengisahkan: Konon Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung yang busurnya terkenal kuat, dan hari itu ia telah mematahkan dua atau tiga buah busurnya. Di sampingnya ada seorang lelaki yang membawa sejumlah anak panah, maka perintah Nabi <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> kepadanya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBerikan semua anak panahmu kepada Abu Thalhah\u2026\u201d, sembari Beliau <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> mengamati pergerakan musuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDemi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, janganlah menampakkan dirimu kepada musuh agar engkau tak terkena panah\u2026 biarlah dadaku yang melindungi dadamu\u2026!!\u201d seru Abu Thalhah <em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em> kepada Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>.<a href=\"http:\/\/basweidan.com\/cinta-rosul-dahulu-dan-sekarang\/#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Subhaanallaah<\/em>, betapa besar kecintaan mereka kepada Nabi e hingga nyawa pun menjadi murah demi keselamatan beliau e\u2026 benar-benar gambaran kecintaan yang sejati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dahulu, ada seorang sahabat yang bernama Muhaiyishah bin Mas\u2019ud Al Khazraji Al Anshari, julukannya Abu Sa\u2019ad. Ia tergolong warga Madinah. Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> pernah mengutusnya ke daerah Fadak untuk mengajak penduduknya masuk Islam. Ia termasuk salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Uhud, Khandaq dan berbagai peperangan berikutnya. Ia memiliki saudara kandung yang lebih tua usianya, yaitu Huwaiyishah bin Mas\u2019ud; akan tetapi Muhaiyishah lebih cerdas dan lebih afdhal dari saudaranya ini, bahkan ialah yang menjadi sebab keislaman saudaranya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada sebuah kisah menakjubkan yang terjadi antara Muhaiyishah dan Huwaiyishah. Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam Kitab Al Maghazi dengan sanadnya dari Ibnu \u2018Abbas <em>radhiyallahu \u2018anhuma<\/em>, yang berkenaan dengan kisah pembunuhan seorang Yahudi keparat yang senantiasa menyakiti Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> melalui syair-syairnya, namanya Ka\u2019ab ibnul Asyraf. Si Yahudi ini berusaha memprovokasi orang-orang Arab untuk memerangi Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Usai terbunuhnya Ka\u2019ab, Rasulullah <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em> bersabda kepada para sahabatnya: \u201cJika kalian berpapasan dengan orang Yahudi siapa pun di sana, maka bunuh saja!\u201d. Maka segeralah Muhaiyishah bin Mas\u2019ud menghabisi Ibnu Sunainah, salah seorang saudagar Yahudi yang dahulu bergaul erat dan berjual beli dengannya. Ketika itu, Huwaiyishah bin Mas\u2019ud belum masuk Islam dan ia lebih tua dari Muhaiyishah. Begitu ia tahu Muhaiyishah membunuh si Yahudi tadi, Huwaiyishah langsung memukul dan menghardiknya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHai musuh Allah, sampai hati kau membunuhnya?! Padahal demi Allah, sebagian lemak yang ada di perutmu adalah berasal dari hartanya!\u201d, bentak Huwaiyishah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDemi Allah, aku diperintahkan untuk membunuhnya oleh seseorang yang bila ia memerintahkanku untuk membunuhmu, niscaya akan kupenggal juga lehermu!\u201d jawab Muhaiyishah tegas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Huwaiyishah tertegun sejenak mendengarnya\u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau begitu, agama yang menjadikanmu seperti ini benar-benar luar biasa\u2026\u201d gumam Huwaiyishah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka Huwaiyishah pun menyatakan keislamannya, dan inilah awal keisalaman dirinya. Seketika itulah Muhaiyishah mengucapkan syair:<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u064a\u0644\u0648\u0645 \u0627\u0628\u0646 \u0623\u0645\u064a \u0644\u0648 \u0623\u0645\u0631\u062a \u0628\u0642\u062a\u0644\u0647 \u0644\u0637\u0628\u0642\u062a \u0630\u0641\u0631\u0627\u0647 \u0628\u0623\u0628\u064a\u0636 \u0642\u0627\u0636\u0628<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mencelaku, padahal kalau disuruh membunuhnya,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">pastilah kutebaskan pedangku pada tengkuknya.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u062d\u0633\u0627\u0645 \u0643\u0644\u0648\u0646 \u0627\u0644\u0645\u0644\u062d \u0623\u062e\u0644\u0635 \u0635\u0642\u0644\u0647 \u0645\u062a\u0649 \u0645\u0627 \u0623\u0635\u0648\u0628\u0647 \u0641\u0644\u064a\u0633 \u0628\u0643\u0627\u0630\u0628<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pedang nan putih bak garam yang berkilau sinarnya,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">yang bila kuhunus maka tak akan lagi berdusta.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0648\u0645\u0627 \u0633\u0631\u0646\u064a \u0623\u0646\u064a \u0642\u062a\u0644\u062a\u0643 \u0637\u0627\u0626\u0639\u0627 \u0648\u0623\u0646 \u0644\u0646\u0627 \u0645\u0627 \u0628\u064a\u0646 \u0628\u0635\u0631\u0649 \u0648\u0645\u0623\u0631\u0628<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tak suka bila membunuhmu karena taat kepadanya,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">diganti dengan apa yang terdapat antara Ma\u2019rib dan Bushra<a href=\"http:\/\/basweidan.com\/cinta-rosul-dahulu-dan-sekarang\/#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Wuiihh<\/em>\u2026 benar-benar sulit dipercaya! Benar-benar kecintaan yang tiada tara\u2026 adakah diantara kita yang sanggup menirunya? Alih-alih ingin seperti mereka, disuruh ikut sunnahnya saja setengah mati susahnya, apalagi disuruh seperti mereka? mustahil rasanya\u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang, cinta Rosul kebanyakan hanyalah slogan yang sulit dicari wujudnya di lapangan. Cinta Rosul sering kali diidentikkan dengan shalawatan, perayaan maulid, isra\u2019 mi\u2019raj, dan yang sejenisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang, orang yang dianggap cinta Rosul ialah mereka yang mengagungkan beliau dengan bertawassul kepadanya dalam do\u2019a. Atau mereka yang mengirimkan Al Fatehah kepada beliau, atau mereka yang menggelari beliau dengan gelar yang bermacam-macam: seperti <em>Sayyidina<\/em>, <em>Habibina<\/em>, dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang, \u2018Cinta Rosul\u2019 merupakan judul kaset yang sering kita dengar dimana-mana\u2026 yang dinyanyikan oleh pria dan wanita, tua dan muda\u2026 semua merasa khusyuk ketika melantunkan kata-kata: <em>Shalaatullaah salaamullaah\u2026 \u2018alal habiibi Rasuulillaah\u2026 <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akan tetapi jangan tanya soal sunnah beliau kepada mereka\u2026 karena mereka akan menjawab bahwa yang mereka lakukan tadilah yang namanya sunnah. Cinta Rosul kini telah berubah menjadi klaim yang diperebutkan setiap golongan. Cinta Rosul yang dahulu diwujudkan dengan ittiba\u2019 kepadanya, kini semakin luas maknanya hingga mencakup bid\u2019ah segala. Menurut mereka, perayaan maulid, isra\u2019 mi\u2019raj, shalawatan, dan yang sejenisnya merupakan perwujudan nyata akan kecintaan seseorang kepada Nabinya. Sehingga otomatis bila ada orang yang mengingkari hal-hal semacam itu, serta-merta dituduhlah ia sebagai orang yang tidak cinta Rosul, atau <em>wahhabi<\/em>, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, mereka berusaha mencari \u2018pembenaran\u2019 \u2013dan bukannya kebenaran\u2013 atas apa yang selama ini mereka lakukan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah bertentangan dengan sunnah Nabi <em>shallallaahu \u2018alaihi wasallam<\/em>. Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin \u2018dalil\u2019 (baca: syubhat) untuk melegitimasi praktik \u2018sunnah\u2019 (baca: bid\u2019ah) mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang zaman kita ini penuh dengan keanehan\u2026 orang yang berusaha menghidupkan sunnah dan membasmi bid\u2019ah justeru dicap macam-macam; seperti <em>tidak cinta Rosul<\/em>\u2026! atau <em>wahhabi<\/em>\u2026! Namun sebaliknya, mereka yang melestarikan berbagai bid\u2019ah khurafat dengan kedok \u2018Cinta Rosul\u2019 justeru mengklaim dirinya sebagai ahlussunnah wal jama\u2019ah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">*****<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis : Ustadz Dr. Sofyan Basweidan, Lc, MA (Doctoral Hadits Universitas Islam Madinah, KSA)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : Basweidan.com<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/basweidan.com\/cinta-rosul-dahulu-dan-sekarang\/#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Lihat Shahih Bukhari, hadits no 3811 &amp; 4064; dan Shahih Muslim, hadits no: 1811.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/basweidan.com\/cinta-rosul-dahulu-dan-sekarang\/#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Lihat <em>Al Istie\u2019aab fi Ma\u2019rifatil As-haab<\/em>, 4\/1463-1464, oleh Al Hafizh Ibnu \u2018Abdil Bar; <em>Dalailun Nubuwwah<\/em> 3\/200, oleh Imam Al Baihaqy; <em>Sirah Ibnu Hisyam<\/em>, 3\/326; dan yang lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ma\u2019rib<\/strong> adalah nama sebuah kota di Yaman, sedangkan <strong>Bushra<\/strong> adalah nama sebuah daerah di Syam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah Pengantar Sebagai seorang muslim, mencintai Rasulullah shallallaahu \u2018alaihi wasallam adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekuensi dari kesaksian kita akan kerasulan beliau shallallaahu \u2018alaihi wasallam. Bagaimana tidak? Sedang melalui beliau lah kita terbebas dari segudang warisan jahiliyah yang telah mengakar begitu lama. Kalau lah tidak karena hidayah Allah, kemudian karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":104,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-103","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ilmu-aqidah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=103"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/103\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":230,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/103\/revisions\/230"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lembaga.unimugo.ac.id\/lppi\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}